• Home
  • Profil Pemain
  • Apa yang Terjadi pada Stefanos Tsitsipas? Mengulik Penurunan Drastis Mantan Penantang Gelar Grand Slam

Lima tahun lalu, Stefanos Tsitsipas berada di ambang gelar Grand Slam pertamanya, memimpin Novak Djokovic dua set di final Roland Garros 2021. Pada awal 2023, ia mencapai final Australian Open dan tampak siap menantang Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner untuk trofi terbesar dalam tenis. Namun kini, Tsitsipas terperosok di luar 30 besar, tidak mencatat satu pun kemenangan atas pemain top-20 sepanjang tahun terakhir dan tidak pernah lolos lebih jauh dari putaran kedua di turnamen Grand Slam mana pun. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan memenangkan sebuah Grand Slam, tetapi apa yang membuat karier yang dulu penuh harapan ini keluar dari jalur.

Cedera punggung yang terus membekas dan mengubah segalanya

Tsitsipas memulai musim 2024 dengan optimisme, mengganti raket dan menjuarai Dubai—gelar ATP 500 pertamanya. Namun momentum itu cepat hilang. Musim tanah liatnya tidak pernah benar-benar berjalan, dan titik balik terjadi di Wimbledon, ketika ia mundur di putaran pertama melawan Valentin Royer karena nyeri punggung yang parah.

Cedera itu sebenarnya bukan hal baru. Tsitsipas pertama kali mengalami masalah serius pada akhir 2023, ketika ia mundur setelah hanya 14 menit bermain di ATP Finals. Ia kemudian mengungkapkan bahwa ia mengalami “satu atau dua minggu rasa sakit yang sangat hebat” dan bahkan kesulitan bangun dari tempat tidur. Meski sempat membaik selama jeda musim, masalah tersebut kembali muncul pada 2024.

Meskipun detail pastinya belum jelas, tanda-tandanya mengarah pada cedera stres di bagian punggung bawah. Ia mengakui bahwa ia terus menahan rasa tidak nyaman sepanjang turnamen musim panas—Toronto, Cincinnati, Winston-Salem—sebelum rasa sakit itu meningkat tajam saat US Open. Setelah tampil di Piala Davis pada September, Tsitsipas dikabarkan menerima suntikan epidural untuk meredakan nyeri saraf, namun hal itu tidak banyak membantu memulihkan performanya. Selain satu penampilan di turnamen ekshibisi, musimnya berakhir lebih cepat dari jadwal.

Krisis pelatih dan masalah jati diri

Selama bertahun-tahun, ayah Tsitsipas, Apostolos, menjadi pelatih utamanya, membimbingnya sejak kecil hingga masa-masa awal terobosannya. Namun ketegangan mulai meningkat ketika hasilnya mandek sejak 2021. Keduanya sering berselisih selama pertandingan, dan pada 2023 Tsitsipas akhirnya mencoba melakukan perubahan.

Setelah kekalahan mengecewakan dari Kei Nishikori di Montreal, Tsitsipas secara terbuka mengkritik ayahnya dan memecatnya sebagai pelatih. Momen itu terlihat seperti sinyal perubahan arah. Untuk waktu yang singkat, ia bekerja dengan mantan pelatih masa kecilnya, Dimitrios Chatzinikolaou, sebelum menambah Goran Ivanisevic—yang dikenal lewat keberhasilannya bersama Novak Djokovic—pada awal 2024.

Pada awalnya, Ivanisevic menyatakan keyakinan terhadap potensi Tsitsipas, menyebutnya sebagai “pemain dengan kemampuan level lima besar.” Namun hanya dalam beberapa minggu, nada bicaranya berubah drastis. Ivanisevic secara terbuka mempertanyakan profesionalisme dan kesiapan fisik Tsitsipas, bahkan menyebutnya sebagai “pemain paling tidak siap yang pernah saya lihat,” sambil menekankan bahwa masalah di luar lapangan telah mengalahkan fokusnya pada tenis.

Dua bulan setelah kerja sama dimulai, Tsitsipas mengakhirinya dan kembali bekerja dengan sang ayah. Ia kemudian memberi isyarat bahwa bekerja dengan Ivanisevic terasa seperti berurusan dengan seorang “diktator,” bukan mentor yang mendukung. Namun keputusan kembali ke Apostolos menimbulkan kekhawatiran tentang apakah Tsitsipas benar-benar mampu — atau bersedia — melakukan perubahan struktural jangka panjang dalam kariernya. Pola ini menunjukkan masalah yang lebih dalam: seorang pemain yang tidak yakin apa yang ia inginkan, dan enggan berkomitmen pada reset sulit namun diperlukan.

Gangguan, hubungan pribadi, dan hilangnya fokus

Bagian lain dari cerita ini berkaitan dengan hubungan Tsitsipas yang sangat publik dengan Paula Badosa. Selama dua tahun, mereka menjadi salah satu pasangan paling terlihat di dunia tenis, dengan akun media sosial bersama, sesi pemotretan untuk majalah, dan pernyataan-pernyataan terbuka tentang hubungan mereka. Hubungan itu penuh jeda, balikan, dan momen emosional yang mencolok—jauh dari stabilitas yang biasanya dibutuhkan atlet elit.

Tsitsipas secara terbuka mengakui bahwa hasil tenis baginya tidak sepenting hubungannya: “Tidak masalah apakah saya memenangkan gelar. Saya tahu bahwa saya telah menemukan perempuan saya.” Meskipun terdengar romantis, pernyataan itu menunjukkan perubahan prioritas yang bertentangan dengan tuntutan performa profesional tingkat tinggi.

Ivanisevic juga beberapa kali menyiratkan adanya masalah di luar lapangan yang memengaruhi etos kerja Tsitsipas. Waktu pernyataannya itu bertepatan dengan berakhirnya hubungan pasangan tersebut saat Wimbledon.

Pemain yang mencari makna

Media sosial Tsitsipas menggambarkan sosok pemain yang tenggelam dalam refleksi diri. Unggahannya berbicara tentang menerima kegagalan, menemukan kekuatan batin, dan menjalani perjalanan pengembangan diri. Meskipun inspiratif, hal itu juga mencerminkan pola pikir yang semakin menjauh dari urgensi kompetitif.

Saat ini, kekhawatiran terbesar bukanlah bahwa Tsitsipas telah terpuruk—melainkan bahwa ia mungkin tidak lagi tahu ke arah mana ia ingin kembali mendaki. Tanpa kejelasan, konsistensi, dan struktur profesional yang kuat, jalan kembalinya menuju puncak tampak semakin tidak pasti.

Apakah Roland Garros 2026 akan menjadi awal kebangkitan atau hanya babak lain dari penurunan panjangnya bergantung pada apakah Tsitsipas dapat menemukan kembali ambisi yang dulu menjadikannya ancaman di turnamen Grand Slam.

Related posts